Pentingnya Pendidikan Seks Untuk Anak Usia Dini

by Mei 15, 2018 0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
 Hampir bisa dipastikan bahwa tidak akan ada orang tua yang merasa nyaman ketika harus mengajarkan seks kepada anaknya. Malu, risih dan sungkan adalah kumpulan perasaan yang pasti menyergap orang tua jika harus mentransfer pengetahuan seks pada anak. Perasaan ini masih ditambah pula dengan kecemasan orang tua yang kerap khawatir kalau anak yang mendapat informasi seks banyak terlalu dini, akan terdorong untuk buru-buru melakukannya.  Namun tidaklah pula bijaksana apabila orang tua menutup semua informasi tentang masalah seksual bagi proses pendidikan anak.
Karena masalah seksual tidak hanya menyangkut hubungan intim, tetapi mencakup berbagai elemen seperti pemaha\man alat kelamin secara biologis, fisiologis, dan fungsi hormonal, pemahaman gender dan seksualitas, pemahaman hasrat seksualitas, pemahaman komunikasi seksualitas, pemahaman sumber rangsangan seksualitas, pemahaman akil baligh, pemahaman seksualitas pada anak, remaja, dan usia lanjut, pemahaman hak pilih memiliki anak, pemahaman orientasi seksual, pemahaman industri seks, pemahaman penyimpangan seks, pemahaman terapi seks, pemahaman unsur genetis seksualitas, pemahaman kejahatan seksualitas dan hukumnya, pemahaman kebijakan publik berkaitan dengan aspek seksualitas masyarakat, dan masih banyak lagi yang lain. Menurut Dra. Dini Oktaufik, pendidikan seks itu tidak selalu mengenai hubungan suami istri, tapi juga mencakup hal-hal lain seperti pemberian pemahaman tentang perkembangan fisik dan hormonal seorang anak serta memahami berbagai batasan sosial yang ada di masyarakat. (Nurlaili.doc-article.php)
Pendidikan seks yang tidak diberikan di usia dini mengakibatkan tingginya kekerasan seksual pada anak yang dilakukan orang-orang terdekat anak termasuk keluarga. Fenomena ini menunjukkan pentingnya pemahaman akan pendidikan seks pada anak usia dini. Masalah pendidikan  seks pada saat ini kurang diperhatikan orang tua sehingga mereka menyerahkan semua pendidikan anak kepada sekolah termasuk pendidikan seks. Padahal yang bertanggungjawab akan pendidikan seks pada anak usia dini adalah orangtua, sedangkan sekolah hanya sebagai pelengkap dan disekolah tidak ada kurikulum tentang pendidikan seks sehingga pendidikan seks pada anak usia dini kadang terabaikan.


B.  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
A.   Bagaimana Pengertian Pendidikan Seks?
B.   Bagaimana Pendidikan Seks untuk Anak Usia Dini?
C.   Pentingkah Pendidkan Seks untuk Anak Usia Dini?
C.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini sebagai berikut:
A.   Untuk mengetahui Pengertian Pendidikan Seks
B.   Untuk mengetahui Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini
C.   Untuk mengetahui Pentingnya Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini





BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendidikan Seks
Pada dasarnya ada dua kata kunci yang harus kita pahami terlebih dahulu. Pertama, kata pendidikan dan kedua kata seks itu sendiri. Pendidikan adalah sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam mendewasakan manusia melalui pendidikan dan pelatihan. Atau diartikan sebagai suatu proses pemindahan pengetahuan ataupun pengembangan potensi-potensi yang dimiliki subjek didik untuk mencapai pengembangan secara optimal serta membudayakan manusia melalui proses transformasi nilai-nilai utama (http://eprints.walisongo.ac.id)
Dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan  nasional (sisdiknas) juga dijelaskan tentang pengertian pendidikan pada pasal (1) “bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.”
Adapun menurut Ki Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuh kembangnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya (http://eprints.walisongo.ac.id)

Dari bebrapa pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa pendidikan adalah proses yang terjadi pada anak didik yang akan membentuk karakter dan proses untuk menjadi manusia dan memanusiakan manusia.

Sedangkan kata seks mempunyai dua pengertian.Pertama, berarti jenis kelamin. Dan yang kedua adalah ihwal yang berhubungan dengan alat kelamin misalnya persetubuhan antara laki-laki dan perempuan. Atau hal ini yang biasa disebut persenggamaan (http://eprints.walisongo.ac.id).

Adapun pendidikan seks sebenarnya mempunyai pengertian yang lebih kompleks.Yaitu upaya memberikan pengetahuan tentang perubahan biologis, psikologis, dan psikososial sebagai akibat pertumbuhan dan perkembangan kejiwaan manusia. Dengan kata lain, pendidikan pendidikan seks pada hakikatnya merupakan usaha untuk membekali pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika serta agama agar tidak terjadi penyalahgunaan organ reproduksi tersebut. Pendidikan seks bisa dikatakan suatu pesan moral. Pendidikan seks sebagai komponen pokok dari kehidupan yang dibutuhkan manusia, karena pada dasarnya mengkaji pendidikan seks pada hakikatnya adalah mengkaji kebutuhan hidup. Pengertian ini menunjukan bahwa pendidikan seks sangatlah luas bukan hanya terkait dimensi fisik, namun juga psikis dan sosial (http://eprints.walisongo.ac.id).
Pendidikan seks sebagai pengetahuan mengenai anatomi organ tubuh yang dapat dilanjutkan pada reproduksi seksualnya dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat, serta kesiapan mental dan material seseorang Terlebih pendidikan seks merupakan salah satu bentuk pendidikan yang mempunyai dimensi yang sangat kompleks dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Hasil dari suatu pendidikan juga tidak segera dapat kita lihat hasilnya atau kita rasakan. Maka pendidikan seks sebagai aktivitas memiliki arah dan tujuan yang sudah direncanakan dan mngharap mampu tercapai dengan baik (http://eprints.walisongo.ac.id).




Pendidikan seks seperti juga pelajaran-pelajaran lain dalam kurikulum, berhubungan dengan transasi informasi, memberikan kontribusi pada perkembangan kemandirian diri, mencari cara mensosialisasikan kelebihan diri dan masyarakat luas. Disamping itu, bagaimanapun pendidikan seks tetap berbeda. Hal ini berkaitan dengan hubungan manusia yang ,eliputi dimensi utama moral. Ini juga tentang wilayah pribadi, kehidupan intim seorang pelajar yang memberikan kontribusi bagi perkembangan pribadinya dan daya harmoni atau kebutuhan. Pada umumnya juga berkaitan dengan emosi, yang tidak hanya berhubungan dengan kedekatan, kesenangan, dan kasih sayang. Namun juga dengan kegelisahan, perasaan bersalah, dan rasa malu. Dari semua aspek tersebut nilai-nilai sangat terkait didalamnya, J. Mark Halsteda & Michael Reiss (2004).
B.  Pendidikan Seks untuk Anak Usia Dini
Ternyata kebanyakan orang memahami sexualitas sebatas istilas sex, padahal antara sex dengan sexualitas merupakan hal yang berbeda. Menurut Zawid (1994), kata sex sering digunakan dalam dua hal, yaitu: (a) aktivitas sexsual genital, dan (b) sebagai label jender (jenis kelamin). Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia (1991: 893); pengertian seks adalah jenis kelamin, seksual adalah berkenaan dengan seks (jenis kelamin) atau berkenaan dengan perkara persetubuhan laki-laki dan perempuan, sedangkan seksualitas adalah sifat, atau peranan seks / dorongan seks /kehidupan seks. Pengertian seksual secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara hubungan intim antara laki-laki dengan perempuan. Menurut Nashih Ulwan A(dalam Madani Y, 91:2003) pendidikan seks adalah upaya pengajaran, penyadaran, dan penerangan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan kepada anak sejak ia mengerti masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri, dan perkawinan. Dinamis dan relatifnya pengertian pendidikan seksualitas tersebut lebih lanjut tampak pada bahasan pengertian berikut ini: Pertama, pendidikan seksualitastidak hanya mempelajari aspek seksualitas  dari sisi biologis, tetapi juga menyangkut masalah psikologis, budaya, etika, moral dan juga hukum. Bruess dan Greenberg (1994:20) memngutif pendapat Haffners tentang pendidikan seksualitas, yaitu sebuah proses kehidupan yang panjang yang meliputi penyampaian informasi dan pembentukan sikap, kepercayaan, dan nilai-nilai tentang identitas, relationship, dan hubungan intim. Pendidikan seksualitas memfokuskan perkembangan seksualitas, kesehatan repsoduksi, hubungan intim dan body image dan peran gender. Pendidikan seksualitas meliputi aspek biologi, sosial budaya, psikologi dan spiritual dari sisi 1) aspek kognitif, 2) asfek sikap, 3) asfek perilaku yang meliputi kemampuan berkomunikasi dan mengambil keputusan. Kedua, menurut Boyke D N dalam Madani Y(2003:7) Pendidikan sex pada anak-anak bukan mengajarkan cara-cara berhubungan sex semata, melainkan lebih kepada upaya memberikan pemahaman kepada anak sesuai dengan usianya, mengenai fungsi-fungsi alat sexsual dan masalah naluri alamiah yang mulai timbul:bimbingan mengenai pentingnya menjaga dan memelihara organ intim mereka, disamping juga memberikan pemahaman tentang perilaku pergaulan yang sehat serta resiko-resiko yang dapat terjadi seputar masalah seksual. Dengan demikian diharapkan anak-anak dapat lebih melindungi diri dan terhindar dari bahasa child seksual abuse (http://www.jurnal.untirta.ac.id).
Menurut Boyke DN dalam MadaniY ( 7 : 2003 ) pendidikan Seks untuk AnakUsia Dini adalah salah satu upaya memberikan pemahaman kepada anak sesuai dengan usianya mengenai fungsi-fungsi alat seksual dan masalah naluri alamiah yang mulai timbul; bimbingan mengenai pentingnya menjaga dan memelihara organ intim mereka, di samping itu juga memberikan pemahaman tentang perilaku pergaulan yang sehat serta resiko-resiko yang dapat terjadi seputar masalah seksual (http://www.jurnal.untirta.ac.id).
Sebagaimana dijelaskan dalam buku pedoman “Aku dan Kamu”(PKBI Pusat,5:2008) program pendidikan seks adalah program kecakapan hidup kesehatan reproduksi dan seksualitas dengan sasaran anak usia 4-6 tahun. Program ini penting dalam rangka memberikan landasan dasar bagi anak untuk mengembangkan sikap positif dan keterampilan hidup diantaranya terkait dengan hubungan sosial, pencegahan kekerasan seksual, kesehatan reproduksi dan seksualitas serta membangun kepercayaan dan komunikasi dengan orang tua tentang seksualitas sejakdini (http://www.jurnal.untirta.ac.id).
 Secara sederhana ada 7 hal yang dapat kita ajarkan kepada anak usia dini mengenai pendidikan seks, di antaranya :
1.    Kenalkan bagian tubuh yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain.
Kenalkan kepada anak bagian-bagian tubuh dan fungsinya, kemudian berikan penjelasan ada bagian tubuh tertentu yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain. Bagian tubuh tersebut antara lain dada, bibir, organ reproduksi dan pantat.
2.    Ajarkan konsep perbedaan jenis kelamin kepada anak
Orang tua perlu mengajarkan anak tentang perbedaan jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki. Memberikan contoh bahwa laki-laki nantinya akan seperti ayah dan perempuan seperti ibu. Konsep perbedaan jenis kelamin ini juga berfungsi untuk mengajarkan anak menggunakan toilet dan pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya.
3.    Tanamkan Budaya Malu kepada Anak
Penting bagi orang tua mengajarkan rasa malu kepada anak agar anak dapat menghargai dirinya sendiri. Mengajarkan batasan-batasan dalam bermain dengan lawan jenis. Memberi arahan untuk tidak melepas dan mengganti pakaian di tempat umum..
4.    Membatasi aktivitas menonton pada anak
Disamping dampak negatif yang muncul dari kebiasaan menonton televisi terlalu lama, tayangan yang dipertontonkan kepada anak juga tidak semuanya bernilai pendidikan. Banyaknya tayangan yang  menampilkan adegan-adegan yang belum pantas dilihat oleh anak. Hal ini akan mengakibatkan anak meniriu adegan dalam tayangan tersebut karena sifat alamiah dari anak adalah meniru apa yang mereka lihat. Lebih baik bermain bersama anak daripada membiarkan anak menonton televisi.
5.    Jauhkan gadget dari anak
Dewasa ini banyak orang tua dengan bangga memberikan gadget kepada anak. Sebagian oang tua bahkan memberikan akses penuh gadget kepada anak dengan dalih agar anak dapat belajar atau agar anak tidak menganggu pekerjaan orang tua. Namun, hal tersebut bukanlah langkah yang tepat bagi orang tua. Anak dibiarkan mendownload games tanpa pengawasan orang tua. Padahal banyaknya konten yang tersembunyi dari games tersebut. Banyaknya unsur pornografi dan perilaku yang kurang pantas dilihat oleh anak ada di dalamnya.
6.    Tumbuhkan rasa percaya anak kepada orang tua
Tumbuhkan rasa percaya anak kepada orang tua. Ajarkan anak untuk tidak menyembunyikan apapun dari orang tua apabila ada perlakuan yang tidak pantas yang diterima atau yang terlihat oleh anak meskipun anak mendapatkan ancaman dari si pelaku.
7.    Bicarakan seks kepada anak dengan mengajak diskusi sederhana
Pendidikan seks dapat ditanamkan orang tua dengan mengajak anak berdiskusi sederhana dan menyenangkan. Menjawab pertanyaan anak dengan lemah lembut. Menjelaskan fakta-fakta yang terjadi dilapangan dengan bahasa yang tidak vulgar dan tidak terkesan menakut-nakuti anak. Orang tua juga harus banyak mempelajari hal-hal terkait tentang pendidikan seks terhadap anak. Karena, semakin berkembangnya zaman pemikiran anak akan semakin bertambah dan anak akan semakin kritis mempertanyakan hal-hal yang tidak dimengerti olehnya. Penting bagi orang tua untuk banyak membaca atau mengikuti forum diskusi seputar pendidikan seks untuk anak usia dini dari pakar yang berkompeten dibidangnya

C.   Pentingnya Pendidikan Seks untuk Anak Usia Dini
Berangkat dari Undang-undang Nomer 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab IV, Pasal 5 ayat (1) berbunyi “Setiap Warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidkan yang bermutu” penulis menyakini bahwa pendidikan yang di maksud bukan hanya pendidikan formal, namu jua mengenai pendidikan seks yang bermutu dan di sampaikan sesuai aturan yang berlaku.
Maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi belakangan ini tidak lagi hanya mengancam para remaja yang rentan terhadap informasi yang salah mengenai seks. Eksploitasi seks pada anak dibawah umur nyatanya juga sering terjadi oleh orang-orang terdekat yang bahkan dilakukan oleh keluarga korban sendiri. Meningkatnya kasus kekerasan merupakan bukti nyata kurangnya pengetahuan anak mengenai pendidikan seks yang seharusnya sudah mereka peroleh dari tahun pertama oleh orang tuanya. Tetapi persepsi masyarakat mengenai pendidikan seks yang masih menganggap tabu untuk dibicarakan bersama anak menjadi sebab yang harus dibenahi bersama untuk membekali anak melawan arus globalisasi yang semakin transparan dalam berbagai hal termasuk seksualitas. Pendidikan seks seharusnya menjadi bentuk kepedulian orang tua terhadap masa depan anak dalam menjaga apa yang telah menjadi kehormatannya, terlebih bagi seorang perempuan. Pendidikan seks menjadi penting mengingat banyaknya kasus-kasus yang terjadi mengenai tindak kekerasan seksual terhadap anak dan remaja. Tetapi yang terjadi di lapangan justru orang tua bersikap apatis dan tidak berperan aktif untuk memberikan pendidikan seks sejak usia dini kepada anaknya. Mereka beranggapan bahwa pendidikan seks akan diperoleh anak seiring berjalannya usia ketika ia sudah dewasa nanti. Mereka seolah menyerahkan pendidikan seks kepada pihak sekolah sebagai sumber ilmu bagi anaknya. Padahal pendidikan seks sendiri belum diterapkan secara khusus dalam kurikulum sekolah. Kurangnya pengetahuan orang tua terhadap kebutuhan anaknya sendiri dalam mengahadapi tuntutan zaman yang semakin berkiblat ke arah barat menjadi faktor utama belum tersampaikannya pendidikan seks sejak usia dini di lingkup keluarga (https://www.kompasiana.com).
Hasil penelitian yang dikutip dari sebuah Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan mengenai Pendidikan Seks pada Usia Dini oleh Moh. Roqib menunjukkan bahwa 97,05% mahasiswa di Yogyakarta telah kehilangan keperawanannya. Nyaris 100% atau secara matematis bisa disepadankan dengan 10 gadis dari 11 gadis sudah tidak perawan yang diakibatkan oleh hubungan seksual. Fakta yang sangat memprihatinkan melihat kondisi remaja saat ini yang tengah terancam dalam mempertahankan kesucian dirinya baik karena paksaan atau karena sama-sama suka saat melakukannya (free sex). Hal ini menunjukkan bahwa perlunya pendidikan seks untuk diberikan sejak usia dini guna memberikan informasi dan mengenalkan  kepada anak bagaimana ia harus menjaga dan melindungi organ tubuhnya dari orang yang berniat jahat terhadap dirinya (https://www.kompasiana.com)























BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan pendidikan seks pada hakikatnya merupakan usaha untuk membekali pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika serta agama agar tidak terjadi penyalahgunaan organ reproduksi tersebut. Pendidikan seks bisa dikatakan suatu pesan moral. Pendidikan seks sebagai komponen pokok dari kehidupan yang dibutuhkan manusia, karena pada dasarnya mengkaji pendidikan seks pada hakikatnya adalah mengkaji kebutuhan hidup. Pengertian ini menunjukan bahwa pendidikan seks sangatlah luas bukan hanya terkait dimensi fisik, namun juga psikis dan sosial.
Pendidikan Seks untuk AnakUsia Dini adalah salah satu upaya memberikan pemahaman kepada anak sesuai dengan usianya mengenai fungsi-fungsi alat seksual dan masalah naluri alamiah yang mulai timbul; bimbingan mengenai pentingnya menjaga dan memelihara organ intim mereka, di samping itu juga memberikan pemahaman tentang perilaku pergaulan yang sehat serta resiko-resiko yang dapat terjadi seputar masalah seksual
Penulis dari tim pro Menyetujui pendidikan seks di ajar di anak usia dini dengan beberpa pertimbangan 1) Anak berhak mendapat pendidikan yang bermutu, bukan hanya pendidikan formal, namun juga pendidikan mengenai seks, 2) Untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual kepada anak usia dini, agar mereka bisa melindungi diri dari hal yang tidak di inginkan,  dan 3) memberikan pemahaman kepada masyarakat luas bahwa pendidikan seks bukan lah hal yang tabu untuk di bicarakan, asal masih dalam jalur edukasi.



DAFTAR PUSTAKA
Halstead, J. Mark & Michael Reiss.2004. Nilai dalam Pendidikan Seks Bagi Remaja dari Prinsip ke Praktek. Alenia Press
Kitab Undang- Undang Dasar
Sumber Website :
Nurlaili.doc-article.php ( di akses pada Jum’at, 17 November 2017 jam 01.13 WITA)
http://eprints.walisongo.ac.id ( diakses pada Jum’at, 17 November 2017 jam 01. 27 WITA)
http://www.jurnal.untirta.ac.id ( diakses pada Jum’at 17 November 2017, jam 06.30 WITA)
https://life.idntimes.com (diakses pada Jum’at 17 November 2017, jam 06.48 WITA)
https://www.kompasiana.com (diakses pada Jum’at 17 November 2017, jam 07.04 WITA)









Bermanfaat Sampai Wafat

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar