BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Hampir bisa dipastikan bahwa tidak
akan ada orang tua yang merasa nyaman ketika harus mengajarkan seks kepada
anaknya. Malu, risih dan sungkan adalah kumpulan perasaan yang pasti menyergap
orang tua jika harus mentransfer pengetahuan seks pada anak. Perasaan ini masih
ditambah pula dengan kecemasan orang tua yang kerap khawatir kalau anak yang
mendapat informasi seks banyak terlalu dini, akan terdorong untuk buru-buru
melakukannya. Namun tidaklah pula bijaksana apabila orang
tua menutup semua informasi tentang masalah seksual bagi proses pendidikan
anak.
Karena masalah seksual tidak hanya menyangkut hubungan intim, tetapi
mencakup berbagai elemen seperti pemaha\man alat kelamin secara biologis,
fisiologis, dan fungsi hormonal, pemahaman gender dan seksualitas, pemahaman
hasrat seksualitas, pemahaman komunikasi seksualitas, pemahaman sumber
rangsangan seksualitas, pemahaman akil baligh, pemahaman seksualitas pada anak,
remaja, dan usia lanjut, pemahaman hak pilih memiliki anak, pemahaman orientasi
seksual, pemahaman industri seks, pemahaman penyimpangan seks, pemahaman terapi
seks, pemahaman unsur genetis seksualitas, pemahaman kejahatan seksualitas dan
hukumnya, pemahaman kebijakan publik berkaitan dengan aspek seksualitas masyarakat,
dan masih banyak lagi yang lain. Menurut Dra. Dini Oktaufik, pendidikan seks
itu tidak selalu mengenai hubungan suami istri, tapi juga mencakup hal-hal lain
seperti pemberian pemahaman tentang perkembangan fisik dan hormonal seorang
anak serta memahami berbagai batasan sosial yang ada di masyarakat.
(Nurlaili.doc-article.php)
Pendidikan seks yang tidak diberikan
di usia dini mengakibatkan tingginya kekerasan seksual pada anak yang dilakukan
orang-orang terdekat anak termasuk keluarga. Fenomena ini menunjukkan
pentingnya pemahaman akan pendidikan seks pada anak usia dini. Masalah
pendidikan seks pada saat ini kurang
diperhatikan orang tua sehingga mereka menyerahkan semua pendidikan anak kepada
sekolah termasuk pendidikan seks. Padahal yang bertanggungjawab akan pendidikan
seks pada anak usia dini adalah orangtua, sedangkan sekolah hanya sebagai
pelengkap dan disekolah tidak ada kurikulum tentang pendidikan seks sehingga
pendidikan seks pada anak usia dini kadang terabaikan.
B. Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah
ini adalah sebagai berikut:
A. Bagaimana
Pengertian Pendidikan Seks?
B. Bagaimana
Pendidikan Seks untuk Anak Usia Dini?
C. Pentingkah
Pendidkan Seks untuk Anak Usia Dini?
C.
Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan penulisan dari makalah ini sebagai berikut:
A. Untuk
mengetahui Pengertian Pendidikan Seks
B. Untuk
mengetahui Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini
C. Untuk
mengetahui Pentingnya Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendidikan
Seks
Pada dasarnya
ada dua kata kunci yang harus kita pahami terlebih dahulu. Pertama, kata
pendidikan dan kedua kata seks itu sendiri. Pendidikan adalah sebagai proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam mendewasakan
manusia melalui pendidikan dan pelatihan. Atau diartikan sebagai suatu proses
pemindahan pengetahuan ataupun pengembangan potensi-potensi yang dimiliki
subjek didik untuk mencapai pengembangan secara optimal serta membudayakan
manusia melalui proses transformasi nilai-nilai utama (http://eprints.walisongo.ac.id)
Dalam Undang-undang nomor 20 tahun
2003 tentang sistem pendidikan nasional
(sisdiknas) juga dijelaskan tentang pengertian pendidikan pada pasal (1) “bahwa
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.”
Adapun menurut
Ki Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan sebagai tuntunan dalam hidup
tumbuh kembangnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan itu menuntun segala
kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan
anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan
setinggi-tingginya (http://eprints.walisongo.ac.id)
Dari bebrapa
pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa pendidikan adalah proses yang
terjadi pada anak didik yang akan membentuk karakter dan proses untuk menjadi
manusia dan memanusiakan manusia.
Sedangkan kata
seks mempunyai dua pengertian.Pertama, berarti jenis kelamin. Dan yang kedua
adalah ihwal yang berhubungan dengan alat kelamin misalnya persetubuhan antara
laki-laki dan perempuan. Atau hal ini yang biasa disebut persenggamaan (http://eprints.walisongo.ac.id).
Adapun
pendidikan seks sebenarnya mempunyai pengertian yang lebih kompleks.Yaitu upaya
memberikan pengetahuan tentang perubahan biologis, psikologis, dan psikososial
sebagai akibat pertumbuhan dan perkembangan kejiwaan manusia. Dengan kata lain,
pendidikan pendidikan seks pada hakikatnya merupakan usaha untuk membekali
pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika
serta agama agar tidak terjadi penyalahgunaan organ reproduksi tersebut.
Pendidikan seks bisa dikatakan suatu pesan moral. Pendidikan seks sebagai komponen pokok dari kehidupan yang
dibutuhkan manusia, karena pada dasarnya mengkaji pendidikan seks pada
hakikatnya adalah mengkaji kebutuhan hidup. Pengertian ini menunjukan bahwa
pendidikan seks sangatlah luas bukan hanya terkait dimensi fisik, namun juga psikis
dan sosial (http://eprints.walisongo.ac.id).
Pendidikan seks
sebagai pengetahuan mengenai anatomi organ tubuh yang dapat dilanjutkan pada
reproduksi seksualnya dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan
hukum, agama, dan adat istiadat, serta kesiapan mental dan material seseorang
Terlebih pendidikan seks merupakan salah satu bentuk pendidikan yang mempunyai
dimensi yang sangat kompleks dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Hasil dari
suatu pendidikan juga tidak segera dapat kita lihat hasilnya atau kita rasakan.
Maka pendidikan seks sebagai aktivitas memiliki arah dan tujuan yang sudah
direncanakan dan mngharap mampu tercapai dengan baik (http://eprints.walisongo.ac.id).
Pendidikan
seks seperti juga pelajaran-pelajaran lain dalam kurikulum, berhubungan dengan
transasi informasi, memberikan kontribusi pada perkembangan kemandirian diri,
mencari cara mensosialisasikan kelebihan diri dan masyarakat luas. Disamping
itu, bagaimanapun pendidikan seks tetap berbeda. Hal ini berkaitan dengan
hubungan manusia yang ,eliputi dimensi utama moral. Ini juga tentang wilayah
pribadi, kehidupan intim seorang pelajar yang memberikan kontribusi bagi
perkembangan pribadinya dan daya harmoni atau kebutuhan. Pada umumnya juga
berkaitan dengan emosi, yang tidak hanya berhubungan dengan kedekatan,
kesenangan, dan kasih sayang. Namun juga dengan kegelisahan, perasaan bersalah,
dan rasa malu. Dari semua aspek tersebut nilai-nilai sangat terkait didalamnya,
J. Mark Halsteda & Michael Reiss (2004).
B.
Pendidikan Seks
untuk Anak Usia Dini
Ternyata
kebanyakan orang memahami sexualitas sebatas istilas sex, padahal antara sex dengan
sexualitas merupakan hal yang berbeda. Menurut Zawid (1994), kata sex sering
digunakan dalam dua hal, yaitu: (a) aktivitas sexsual genital, dan (b) sebagai
label jender (jenis kelamin). Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia (1991: 893);
pengertian seks adalah jenis kelamin, seksual adalah berkenaan dengan seks
(jenis kelamin) atau berkenaan dengan perkara persetubuhan laki-laki dan perempuan,
sedangkan seksualitas adalah sifat, atau peranan seks / dorongan seks
/kehidupan seks. Pengertian seksual secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan
alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara hubungan
intim antara laki-laki dengan perempuan. Menurut Nashih Ulwan A(dalam Madani Y,
91:2003) pendidikan seks adalah upaya pengajaran, penyadaran, dan penerangan
tentang masalah-masalah seksual yang diberikan kepada anak sejak ia mengerti
masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri, dan perkawinan. Dinamis dan
relatifnya pengertian pendidikan seksualitas tersebut lebih lanjut tampak pada
bahasan pengertian berikut ini: Pertama, pendidikan seksualitastidak hanya
mempelajari aspek seksualitas dari sisi
biologis, tetapi juga menyangkut masalah psikologis, budaya, etika, moral dan
juga hukum. Bruess dan Greenberg (1994:20) memngutif pendapat Haffners tentang
pendidikan seksualitas, yaitu sebuah proses kehidupan yang panjang yang
meliputi penyampaian informasi dan pembentukan sikap, kepercayaan, dan
nilai-nilai tentang identitas, relationship, dan hubungan intim. Pendidikan
seksualitas memfokuskan perkembangan seksualitas, kesehatan repsoduksi,
hubungan intim dan body image dan peran gender. Pendidikan seksualitas meliputi
aspek biologi, sosial budaya, psikologi dan spiritual dari sisi 1) aspek
kognitif, 2) asfek sikap, 3) asfek perilaku yang meliputi kemampuan berkomunikasi
dan mengambil keputusan. Kedua, menurut Boyke D N dalam Madani Y(2003:7) Pendidikan
sex pada anak-anak bukan mengajarkan cara-cara berhubungan sex semata,
melainkan lebih kepada upaya memberikan pemahaman kepada anak sesuai dengan
usianya, mengenai fungsi-fungsi alat sexsual dan masalah naluri alamiah yang
mulai timbul:bimbingan mengenai pentingnya menjaga dan memelihara organ intim
mereka, disamping juga memberikan pemahaman tentang perilaku pergaulan yang
sehat serta resiko-resiko yang dapat terjadi seputar masalah seksual. Dengan
demikian diharapkan anak-anak dapat lebih melindungi diri dan terhindar dari
bahasa child seksual abuse (http://www.jurnal.untirta.ac.id).
Menurut Boyke DN dalam MadaniY ( 7 :
2003 ) pendidikan Seks untuk AnakUsia Dini adalah salah satu upaya memberikan
pemahaman kepada anak sesuai dengan usianya mengenai fungsi-fungsi alat seksual
dan masalah naluri alamiah yang mulai timbul; bimbingan mengenai pentingnya
menjaga dan memelihara organ intim mereka, di samping itu juga memberikan
pemahaman tentang perilaku pergaulan yang sehat serta resiko-resiko yang dapat
terjadi seputar masalah seksual (http://www.jurnal.untirta.ac.id).
Sebagaimana
dijelaskan dalam buku pedoman “Aku dan Kamu”(PKBI Pusat,5:2008) program pendidikan
seks adalah program kecakapan hidup kesehatan reproduksi dan seksualitas dengan
sasaran anak usia 4-6 tahun. Program ini penting dalam rangka memberikan
landasan dasar bagi anak untuk mengembangkan sikap positif dan keterampilan
hidup diantaranya terkait dengan hubungan sosial, pencegahan kekerasan seksual,
kesehatan reproduksi dan seksualitas serta membangun kepercayaan dan komunikasi
dengan orang tua tentang seksualitas sejakdini (http://www.jurnal.untirta.ac.id).
Secara sederhana ada 7 hal yang dapat kita
ajarkan kepada anak usia dini mengenai pendidikan seks, di antaranya :
1.
Kenalkan bagian tubuh yang tidak boleh dilihat dan disentuh
orang lain.
Kenalkan
kepada anak bagian-bagian tubuh dan fungsinya, kemudian berikan penjelasan ada
bagian tubuh tertentu yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain. Bagian
tubuh tersebut antara lain dada, bibir, organ reproduksi dan pantat.
2. Ajarkan
konsep perbedaan jenis kelamin kepada anak
Orang
tua perlu mengajarkan anak tentang perbedaan jenis kelamin antara perempuan dan
laki-laki. Memberikan contoh bahwa laki-laki nantinya akan seperti ayah dan
perempuan seperti ibu. Konsep perbedaan jenis kelamin ini juga berfungsi untuk
mengajarkan anak menggunakan toilet dan pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya.
3. Tanamkan Budaya Malu kepada Anak
Penting
bagi orang tua mengajarkan rasa malu kepada anak agar anak dapat menghargai
dirinya sendiri. Mengajarkan batasan-batasan dalam bermain dengan lawan jenis.
Memberi arahan untuk tidak melepas dan mengganti pakaian di tempat umum..
4. Membatasi
aktivitas menonton pada anak
Disamping
dampak negatif yang muncul dari kebiasaan menonton televisi terlalu lama,
tayangan yang dipertontonkan kepada anak juga tidak semuanya bernilai
pendidikan. Banyaknya tayangan yang menampilkan adegan-adegan yang belum
pantas dilihat oleh anak. Hal ini akan mengakibatkan anak meniriu adegan dalam
tayangan tersebut karena sifat alamiah dari anak adalah meniru apa yang mereka
lihat. Lebih baik bermain bersama anak daripada membiarkan anak menonton
televisi.
5. Jauhkan
gadget dari anak
Dewasa
ini banyak orang tua dengan bangga memberikan gadget kepada anak. Sebagian oang
tua bahkan memberikan akses penuh gadget kepada anak dengan dalih agar anak
dapat belajar atau agar anak tidak menganggu pekerjaan orang tua. Namun, hal
tersebut bukanlah langkah yang tepat bagi orang tua. Anak dibiarkan mendownload
games tanpa pengawasan orang tua. Padahal banyaknya konten yang tersembunyi
dari games tersebut. Banyaknya unsur pornografi dan perilaku yang kurang pantas
dilihat oleh anak ada di dalamnya.
6. Tumbuhkan rasa percaya anak kepada
orang tua
Tumbuhkan
rasa percaya anak kepada orang tua. Ajarkan anak untuk tidak menyembunyikan
apapun dari orang tua apabila ada perlakuan yang tidak pantas yang diterima
atau yang terlihat oleh anak meskipun anak mendapatkan ancaman dari si pelaku.
7. Bicarakan
seks kepada anak dengan mengajak diskusi sederhana
Pendidikan
seks dapat ditanamkan orang tua dengan mengajak anak berdiskusi sederhana dan
menyenangkan. Menjawab pertanyaan anak dengan lemah lembut. Menjelaskan
fakta-fakta yang terjadi dilapangan dengan bahasa yang tidak vulgar dan tidak
terkesan menakut-nakuti anak. Orang tua juga harus banyak mempelajari hal-hal terkait
tentang pendidikan seks terhadap anak. Karena, semakin berkembangnya zaman
pemikiran anak akan semakin bertambah dan anak akan semakin kritis
mempertanyakan hal-hal yang tidak dimengerti olehnya. Penting bagi orang tua
untuk banyak membaca atau mengikuti forum diskusi seputar pendidikan
seks untuk anak usia dini dari pakar yang berkompeten dibidangnya
C.
Pentingnya Pendidikan Seks untuk
Anak Usia Dini
Berangkat dari
Undang-undang Nomer 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab IV,
Pasal 5 ayat (1) berbunyi “Setiap Warga Negara mempunyai hak yang sama untuk
memperoleh pendidkan yang bermutu” penulis menyakini bahwa pendidikan yang di
maksud bukan hanya pendidikan formal, namu jua mengenai pendidikan seks yang
bermutu dan di sampaikan sesuai aturan yang berlaku.
Maraknya
kasus kekerasan seksual yang terjadi belakangan ini tidak lagi hanya mengancam
para remaja yang rentan terhadap informasi yang salah mengenai seks.
Eksploitasi seks pada anak dibawah umur nyatanya juga sering terjadi oleh
orang-orang terdekat yang bahkan dilakukan oleh keluarga korban sendiri.
Meningkatnya kasus kekerasan merupakan bukti nyata kurangnya pengetahuan anak
mengenai pendidikan seks yang seharusnya sudah mereka peroleh dari tahun
pertama oleh orang tuanya. Tetapi persepsi masyarakat mengenai pendidikan seks
yang masih menganggap tabu untuk dibicarakan bersama anak menjadi sebab yang
harus dibenahi bersama untuk membekali anak melawan arus globalisasi yang
semakin transparan dalam berbagai hal termasuk seksualitas. Pendidikan seks
seharusnya menjadi bentuk kepedulian orang tua terhadap masa depan anak dalam
menjaga apa yang telah menjadi kehormatannya, terlebih bagi seorang perempuan.
Pendidikan seks menjadi penting mengingat banyaknya kasus-kasus yang terjadi
mengenai tindak kekerasan seksual terhadap anak dan remaja. Tetapi yang terjadi
di lapangan justru orang tua bersikap apatis dan tidak berperan aktif untuk
memberikan pendidikan seks sejak usia dini kepada anaknya. Mereka beranggapan
bahwa pendidikan seks akan diperoleh anak seiring berjalannya usia ketika ia
sudah dewasa nanti. Mereka seolah menyerahkan pendidikan seks kepada pihak
sekolah sebagai sumber ilmu bagi anaknya. Padahal pendidikan seks sendiri belum
diterapkan secara khusus dalam kurikulum sekolah. Kurangnya pengetahuan orang
tua terhadap kebutuhan anaknya sendiri dalam mengahadapi tuntutan zaman yang
semakin berkiblat ke arah barat menjadi faktor utama belum tersampaikannya
pendidikan seks sejak usia dini di lingkup keluarga (https://www.kompasiana.com).
Hasil penelitian yang dikutip dari sebuah Jurnal
Pemikiran Alternatif Pendidikan mengenai Pendidikan Seks pada Usia Dini oleh
Moh. Roqib menunjukkan bahwa 97,05% mahasiswa di Yogyakarta telah kehilangan
keperawanannya. Nyaris 100% atau secara matematis bisa disepadankan dengan 10
gadis dari 11 gadis sudah tidak perawan yang diakibatkan oleh hubungan seksual.
Fakta yang sangat memprihatinkan melihat kondisi remaja saat ini yang tengah
terancam dalam mempertahankan kesucian dirinya baik karena paksaan atau karena
sama-sama suka saat melakukannya (free
sex). Hal ini menunjukkan bahwa perlunya pendidikan seks untuk
diberikan sejak usia dini guna memberikan informasi dan mengenalkan
kepada anak bagaimana ia harus menjaga dan melindungi organ tubuhnya dari orang
yang berniat jahat terhadap dirinya (https://www.kompasiana.com)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan
pendidikan seks pada hakikatnya merupakan usaha untuk membekali pengetahuan
tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika serta agama agar
tidak terjadi penyalahgunaan organ reproduksi tersebut. Pendidikan seks bisa
dikatakan suatu pesan moral.
Pendidikan seks sebagai komponen pokok dari kehidupan yang dibutuhkan manusia,
karena pada dasarnya mengkaji pendidikan seks pada hakikatnya adalah mengkaji
kebutuhan hidup. Pengertian ini menunjukan bahwa pendidikan seks sangatlah luas
bukan hanya terkait dimensi fisik, namun juga psikis dan sosial.
Pendidikan Seks untuk AnakUsia Dini
adalah salah satu upaya memberikan pemahaman kepada anak sesuai dengan usianya
mengenai fungsi-fungsi alat seksual dan masalah naluri alamiah yang mulai timbul;
bimbingan mengenai pentingnya menjaga dan memelihara organ intim mereka, di
samping itu juga memberikan pemahaman tentang perilaku pergaulan yang sehat
serta resiko-resiko yang dapat terjadi seputar masalah seksual
Penulis dari tim pro Menyetujui pendidikan seks di ajar di
anak usia dini dengan beberpa pertimbangan 1) Anak berhak mendapat pendidikan
yang bermutu, bukan hanya pendidikan formal, namun juga pendidikan mengenai
seks, 2) Untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual kepada anak usia dini, agar
mereka bisa melindungi diri dari hal yang tidak di inginkan, dan 3) memberikan pemahaman kepada masyarakat
luas bahwa pendidikan seks bukan lah hal yang tabu untuk di bicarakan, asal
masih dalam jalur edukasi.
DAFTAR PUSTAKA
Halstead, J. Mark & Michael Reiss.2004. Nilai dalam Pendidikan Seks Bagi Remaja dari
Prinsip ke Praktek. Alenia Press
Kitab Undang- Undang Dasar
Sumber Website :
Nurlaili.doc-article.php ( di akses
pada Jum’at, 17 November 2017 jam 01.13 WITA)
http://eprints.walisongo.ac.id ( diakses pada
Jum’at, 17 November 2017 jam 01. 27 WITA)
http://www.jurnal.untirta.ac.id ( diakses pada
Jum’at 17 November 2017, jam 06.30 WITA)
https://life.idntimes.com (diakses pada Jum’at 17 November 2017, jam 06.48 WITA)
https://www.kompasiana.com (diakses pada Jum’at 17 November
2017, jam 07.04 WITA)


0 komentar:
Posting Komentar