Sore itu di kala sang mentari mulai merangkak turun, di temani belaian angin dan nyanyian burung, dan jingga mulai mengintip malu-malu di sebelah barat, menyatakan sebentar lagi senja akan tiba, aku kembali di sibukkan dengan rapat mingguan Pengurus Inti Despro (Desa Produktif) Benanga, di pelataran secretariat yang kami sebut sebagai ‘rumah dinas’, tempat gagasan-gagasan cerdas dan gila timbul dan di sepakati bersama, ngomong-ngomong soal cerdas dan gila bukankah perbedaanya hanya setipis selembar HVS 70 gram? Seperti halnya Einstein yang di sebut gila dengan segala teorinya yang mendunia atau bahkan seperti salah satu anak Bangsa tentang teori mengenai pesawat terbangnya yang di ragukan dan di remehkan?
‘Rumah Dinas’ ini sebenarnya adalah asrama ikhwan, di mana asrama tersebut hanya sebuah rumah sederhana, mempunyai dua tingkat, berdinding kayu dan beratap seng, di lengkapi dengan lantai yang sudah berkeramik, tempat tinggal dan ‘laboratorium’ para pendamping untuk membentuk kami menjadi sang negarawan muda. Hhh aku menghela nafas sekali lagi, menatap kedepan, berharap para pengurus inti yang lain cepat bergegas datang,“jadi akh, bagaimana? Apakah setuju dengan konsep ini? Akh, akhi!” suara bass di sebelahku terdengar naik setengah oktaf, membuatku kembali tertarik kedunia nyata dari pemikiran-pemikiran mengenai Etos dan Despro yang bagaikan benang kusut di tempurung kepalaku. “afwan akh, bisa di ulangi sekali lagi?” terdengar helaan nafas dari pemilik suara bass yang nadanya naik setengah oktaf tadi—Marwan. Marwan adalah ketua divisi kesehatan di Despro Benanga, ia kembali menjelaskan tentang pelaksaan proker dari divisinya, mengenai senam sehat yang akan di adakan dua minggu sekali di SDN 015 Lempake, senam sederhana yang terdiri dari senam SKJ dan senam penguin, “adek-adek di sana pasti tertarik dan senang dengan senam ini, kalau menurut pendapat Faiz gimana? Terdengar semangat dan antusiasme dari pertanyaan itu, menatapku sekilas, kemudian mengangguk, tanda ia menyetujui usulan Marwan.Faizal, atau yang lebih akrab di sapa Faiz, adalah ketua divisi Ekonomi di despro Benga ini, ia selalu begitu, tidak banyak bicara, namun jika sudah mengutarakan idenya, kurasa ia salah satu dari Einstein atau bahkan Habibie generasi sekarang. Marwan kemudian menatapku dengan pandanga bertanya, “ana sepakat aja Wan, tapi tunggu dulu kesepakatan dari divisi pendidikan, apakah mereka sepakat atau tidak, karena senam ini akan memangkas waktu belajar adek-adek di kelas” jawabku. “Ya tapi paling tidak ana sudah memegang dua kata sepakat dari kalian berdua” senyum tipis itu muncul di bibirnya. Aku hanya mengangguk saja, pertanda menyepakati usulan tersebut. Kembali menatap kedepan, ku lihat dua orang akhwat sedang berjalan menuju lingkaran kecil ini, jilbab mereka panjang terulur menutupi aurat, baju kaos longgar, di padu dengan rok panjang lipit, di lengkapi dengan kaos kaki, aku merasa bersyukur berada di lingkungan ini, lingkungan yang ku harap dapat mengubah bumi pertiwi yang sedang menangis ini setidaknya kembali tersenyum. “Assalamu’alaikum” serentak mereka berdua berucap. “Wa’alaikumussalam” jawab kami serempak. Dua orang akhwat tersebut langsung bergabung kedalam lingkaran, namun tetap menjaga ‘batasannya’. “afwan yah, kita telat, soalnya tadi baru dari Despro” ucap Kiah. Nurmulkiiah adalah ketua divisi pendidikan, ia yang paling antusias jika pergi ke Despro, katanya adek-adek di Despro itu membuat ia rindu akan kampung halamannya dan membawa kebahagian tersendiri jika sudah bersama mereka. “iya kita baru ngecek kegiatan sore adek-adek di sana” sambung Ima. Kharisma adalah ketua divisi sosial, soulmet dari si Kiah. “ok, enggak papa, jadi gimana hasilnya?” kataku. “adek-adek SDN 015 Benanga, setelah pulang sekolah hingga sore hari, mereka itu enggak terkontrol, maksudnya di sini, kan pekerjaan orang tua mereka sebagian besar petani, nah jadi orang tua mereka jarang di rumah hingga menjelang Maghrib, jadi kegiatan mereka itu cuman main, ngumpul-ngumpul gitu, jadi entar divisi pendidikan akan menjalankan proker bimbel dan mengaji di surau yang dekat dengan Bendungan” jelas Kiah panjang lebar. “bagus juga” sahut Faiz. “tapi apa mereka gk bosan tuh kan setiap sabtu ketemu sama kita di sekolah, dan harus ketemu kita lagi waktu sore?” sambung Faiz, “insya Allah enggak, untuk tahap awal kita buka bimbel tiap Sabtu sore aja” imbuh Kiah. “ok sepakat Kiah” sahut para ikhwan serempak. “Alhamdulillah nah kan bener kataku Ki, bakalan di terima” Ima berkata. “Ya Alhamdulillah Ma” sahut Kiah. Ting! Ting! Ting! Suara HP yang berasal dari tas kecil yang di bawa oleh Ima. “afwan yah, bentar”, “San, ini ada BBM dari Alvian, katanya dia izin gk bisa hadir soalnya ada rapat BEM di Fakultasnya, nah itu ada juga kabar dari Rahman dia ada agenda LDF, dan yang terakhir ini izin dari Dena, dia gk bisa hadir karena ngurusin jualannya” Ima memberi informasi. “Oke gak papa” sahutku. Alvian, ketua divisi medifo, Rahman, bendahara despro dan Dena sekretaris Despro, entahlah mereka hampir saja absen setiap rapat Pengurus Inti. Aku adalah ketua Despro di sini, Sandi atau yang bias akrab di panggil San. Entahlah aku merasa belum mampu mengemban amanah ini, amanah yang ku dapat semenjak Mubes Despro dua bulan yang lalu, dan aku pernah membicarakan ketidak sanggupanku dalam mengemban amanah ini kepada peendamping, namun respon yang ku terima melampaui ekspetasi ku dan yang selalu ku ingat hingga kini ialah respon pendamping “engkau tau San, amanah itu tidak akan pernah salah memilih pundak” ucapnya, dan ya mantra itu yang selalu ku rapalkan berkali-kali jika sudah mulai bosan dengan aktifitas ini. Hhh terdengar helaan nafas yang lagi-lagi keluar dari hidungku. Aku kembali tersadar dari lmunanku saat ku dengar tawa renyah dari lingkaran kecil ini, ternyata pihak divisi pendidikan sudah menyetujui proker dari divisi kesehatan yang akan mulai di lakukan minggu depan. “untuk pelaksanaan bimble dan ngaji di surau, divisi pendidikan berkolaborasi dengan divisi sosial yah, buat berkomunikasi dengan pak RT dan pengurus surau di Benanga” kataku membuat suara tawa mereka terhenti. “Ok” sahut soulmate tersebut. Berakhirlah rapat sore itu, di tutup dengan istigfar, do’a kparatul majelis, dan di sempurnakan dengan hamdallah.
***
Matahari
mulai merangkak naik, teriknya terasa menusuk kulit, namun tak mematahkan
semangatku menempuh perjalanan ke desa Benanga, Desa ini bisa di capai dengan
perjalanan sekitar 30 menit menggunakan sepeda motor, desa yang terletak di
pinggir kota Samarinda, mempunyai objek wisata berupa bendungan air yang
berfungsi sebagai irigasi pertanian yang banyak di kunjungi oleh remaja
tanggung ibu kota yang jenuh dengan kemacetan dan polusi. Aku menambah
kecepatan motor yang sedang ku kendarai menuju rumah pak RT untuk mewakilakan
Kiah dan Ima yang berhalangan hadir di karenakan ada kuliah dadakan yang di
adakan oleh dosen mereka. Setibanya di rumah pak RT aku di sambut hangat dengan
teh dan roti yang tersedia di atas meja, ternyata di rumah tersebut sudah
menunggu marbot surau, sembari berbincang mengenai rencana dari para Etoser
untuk membuka bimbel dan mengajar ngaji di surau. Alhamdulillah rencana kami di
sambut dengan baik oleh pak RT dan marbot. Hal terakhir yang harus di lakukan
adalah eksekusi pikirku.
****
Pagi
itu di kala embun masih berjatuhan dari dedaunan di perkarangan ‘Rumah Dinas’,
hawa dingin masih terasa menusuk kulit, kami para pengurus inti despro sudah
membentuk lingkaran kecil, kembali kami di sibukkan dengan rapat mingguan, kali
ini di pilih pagi, karena pekuliahan sudah semakin padat, sehingga tiada waktu
senggang di sore hari untuk kami membuat lingkaran kecil semacam ini dan aku
bisa sedikit bernfas lega karena para pengurus inti kali ini lengkap hadir.
Rapat di buka dengan aku yang memimpin, di lanjutkan pembacaan tilawah dari
Rahman dan di lanjutkan laporan dari masing-masing divisi. Di mulai dari divisi
pendidikan yang melaporkan perihal proker yang sudah di sepakati oleh pak Rt
dan marbot surau, di lanjut dengan laporan dari divisi kesehatan tentag
pelaksanaan senam sehat yang ternyata sangat di sambut positif oleh adek-adek
SDN 015 Benanga, selanjutnya laporan dari divisi sosial, divisi sosial saat ni
masih berfokus pada bidang sosial-pendidikan mengingat despro kami ini baru di
bentuk, lanjut laporan dari divisi ekonomi, mereka masih mencari potensi sumber
daya alam yang akan di olah menjadi branded khas desa Benga. Alvian melaporkan
bahwa divisi medifo belum ada rapat, di karenakan kesibukn masing-masing
anggota divisi “sungguh sangat di sayangkan Al, kamu belum ada rapat, karena
kita ini membutuhkan media agar kegiatan kita ini bisa terekspos luas, kalau
gak bisa rapat tatap muka, kan bisa rapat di grup” kataku. “gak semudah yang
kamu pikirkan San, mereka itu slow respon, di chat pagi balas sore, di chat
sore balas malam, kan kalau malam enggak boleh lewat dari jam 9 kalau mau
berkoordinasi” sanggah Alvian. “setidaknya kamu bisa mengkondisikan agar divisi
kalian bisa rapat, gak harus ngumpul
semua Al, cukup siapa aja yang bisa dan hadir, maka mulailah rapatnya”
sambungku. “Iya kalau itu juga aku tau San, okelah ntar saya coba lagi”. Dan
terakhir adalah laporan dari bendahara mengenai dana yang ada di kas Despro.
Alhamdulillah rapat pagi ini berjalan dengan lancar dan bisa selesai sebelum
jam 7 pagi.
***
Hari
Sabtupun tiba, kami regu Fatanah berangkat menuju Despro untuk mengjar di
kelas, saat itu langit tak secerah biasanya, ada mendung yng menyelimuti perjalanan
kami, awan-awan itu mengabu lalu menghitam, membentuk gumpalan yang siap
memuntahkan isinya kebumi. Tes , tes, bunyi rintikan air yang mulai berjatuhan
mengenai helm yang sedang kupakai di susul dengan berondongan air hujan yang
langsung turun tanpa dapat kucegah. Kulirik jam terpasang di tangan kiriku,
sudah 15 menit perjalanan pikirku, sayang sekali jika harus putar balik,
kulihat teman-teman di depan sudah berhenti untuk berteduh. Kami berteduh di
bawah pohon beringin besar di tepi jalan. “Alhamdulillah hujan tap ideas banget
ini hujannya, pasti di pada banjir jalannya, dan yang dekat sekolah pasti becek
banget” Kiah berujuar di tengah hujan yang terus berjatuhan semakin deras, di
tambah deru angin yang kian kencang. “Tak mengapa Ki, teman-teman 5 menit lagi,
kalau hujannya udah agak reda kita lanjut ke sekolah” kata ku memberi tahu
teman-teman yang lain.. Setelah 5 menit berlalupun hujan masih turun dengan
derasnya, ku lihat baju teman-teman yang lain sudah mulai kuyup terkena
cipratan air. “Gimana ni San?” pertanyaan itu muncul dari Yahya—anngota
Fatanah, “Tunggu 5 menit lagi, kita udah janji sama adek-adeknya hari ini
bakalan ngasih mereka roti” kataku. Tak ada sahuan lagi dari Yahya, kulihat ia
hanya mengosokkan kedua tanganya bergantian mengurangi dinginnya hujan. “ini
hujannnya makin lebat, gak mungkin bakalan berhenti,aku cabut balik San,
soalnya ada rapat lan yang nunggu aku di kampus” Ujar Alvian, seraya hanya
terdengar suara deru motornya saja. Selalu begitu pikirku masam. Namun aku
mencoba mengerti, amanah yang diterima Alvian di kampus lebih besar, ia menjadi
ketua dari gerakan turu tanga. Bukankah kita mempunyai cara tersendiri untuk
mengabdi pada negeri ini? Tak sampai 5 menit berikutnya, hujan mulai reda, dan
kami langsung berangkat. Banjir menyapa di pertengahan jalan, ahh tidak sampai
masuk ke motor bebek kesayanganku ini airnya, begitu pikirku. Motor pertama
dari rombongan kami berhasil lolos dari banjir, begitu juga motor kedua, ketiga
dan keempat. Dan yang terakhir adalah motorku, ku lewati banjir itu dengan
hati-hati sembari berdo’a agar airnya tidak masuk kedalam knalpot motor dan
membuat ia macet sehingga gagal ke Despro hari ini. Berhasil! Kelompok kami
beriringan menuju sekolah, seperti yangdi prediksikan oleh Kiah, jalanan dekat
seolah ini becek, bahkan berlumpur dan akan sangat licin jika di lewati oleh
ban kota seperti punya kami. Aku yang pertama kali melewti jalan berlumpur
tersebut, dengan kecepatan rendah, rem yang siap di gunakan kapan saja, Bugh!
Suara motor beserta orangnya menghantam tanah, ya aku terjatuh, persis di ujung
jalan ini, padahal sedikit lagi sampai pikirku masam. “san kamu enggak papa?”
teriak Yahya di ujung jalan. Aku hanya mengangkat tangan ke atas dan memberi
jempol, pertanda aku baik-baik saja. Kembali berusaha bangkit dan mengangkat
motor ku, ke ujung jalan yang tidak berlumpur tersebut. “Entar hati-hati yah,
lewatnya sebelah sana, jangan di sebelah sini” kataku memberi arahan pada
teman-teman di ujung sana. Motor kedua, ketiga dan keempat lolos, meski ban
mereka harus terpeleset kesana-kemari. Tersisa satu motor lagi, motornya Kiah
beserta orangnya. “Kiah, oy, kamu jalan aja lewat pinggir” teriakku “Lah
motorku gimana San?” balasnya dengan wajar khawatir “Entar aku yang bawa kesini
“yakin? entar kamu jatuuh lagi pake motorku” ujuarnya setengah mengejek “Ck,
bisaa elah gua”. Aku kemudia berjalan melewati pinggir jalan berlumpur
tersebut. “Itu kuncinya di motor, hati-hati entar motorku rusaaak” Kiah
berujar. “Iya” jawabku. Kupacu motor Kiah melewati jalan berlumpur ini tanpa
mengulangi kesalahan yang sama, motor Kiah pun sampai dengan mulus dan selamat
ke ujung jalan. “Makasih San” kata Kiah yang sudah sampai terlebih dahulu dari
pada aku, “Ya” jawabku. “pakaianmu kotor
gitu San, masa iya mau masuk kelas” ujar Yahya. “ini saya bawa pakaian ganti
kok, entar bakalan numpang ganti di WC guru” jawabku. Setibanya kami di sekolah
hujan hanya menyisakan rintik-rintik halusnya di dedaunan, segar sekaliudara
disini.
***
Kegiatan
belajar mengajarpun kami mulai setelah aku berganti pakaian, meminta izin
kepada para guru dan masu di ruang kelas, kali ini aku masuk di kelas 1.
Melihat senyum mereka merekah, tawa terdengar di penjuru kelas, membuat rasa
lelah perjalanan tadi hilang tak berbekas. Mungkin ini yang membuat Kiah rajin
turun ke Despro pikirku. Aku mengajarkan mereka bahasa Inggris melalui lagu
‘open banana’, antusias mereka sangat tinggi karena mendapatkan lagu baru, di
selala pembelajaran tersebut. Aku menyelipkan tentang pelajaran akhlaq dan cara
mencinta Indonesia, meskipun kami sedang belajar bahasa inggris.
***
Aku
selalu bersyukur dapat bertemu orang-orang hebat di Etos, belajar banyak dari
masyarakat Benanga, sebagai wadah untuk belajar merawat Indonesia yang di mulai
dari merawat desa dan terjun langsung kedalamnya. Tak perduli hujan dan jalan
berlumpur yang melintang didepan aku tetap semangat untuk terus belajar menjadi
lebih baik dan membuat indonesi menjadi lebih baik. Sebagai bentuk pengabdianku
terhadap negeri.


0 komentar:
Posting Komentar