Mahasiswa, kata yang menunjukkan tingkat kedewasaan
dari kata siswa. Dimana perannya pun bertambah dan sangat di harapkan oleh
masyarakat. Mahasiswa sering di sebut-sebut sebagai agen of change,iron stock,social
control dan moral force di mana
dari julukan tersebut sepertinya membawa angin segar bagi bangsa yang sedang
merintih dan menangis ini dapat menjadi lebih baik lagi. Mahasiswa di tuntut
untuk tidak hanya duduk dan mengejar IPK tinggi, mahasiswa di tuntut untuk
mengasah soft skill dan di larang
untuk berkeluh kesah, karena mahasiswa adalah pemuda pilihan yang berkesempatan
merengguk dalamnya ilmu pengetahuan.Terlepas dari berbagai presepsi masyarakat
mnengenai mahasiswa, bagi saya mahasiswa adalah pemuda pilihan yang lahir dari
masyarakat dan harus memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat itu sendiri agar
terciptanya Indonesia yang Unggul dan Berdaya. Serperti kata pepatah
“Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain”.
Mahasiswa mempunyai peran yang signifikan bagi
perubahan bangsa ini karena mereka adalah kaum netral yang idealis, penuh
semangat dan inovasi yang tak terbatas. Aktivitas yang di lakukan mahasiswa
seyogyanya tidak hanya berpaku pada dosen dan modul-modul kuliah saja tetapi
mahasiswa juga harus dapat memahami dan menghayati masyarakat di sekelilingnya.
Dengan total mahasiswa sebanyak 4,8 Juta orang pada
tahun 2011 (Kompas.com) Indonesia saat ini tengah merindukan sosok mahasiswa
yang lantang berteriak menentang ketidak adilan, yang berani meninju ketidak
adilan dengan kepalan tangan, mahasiswa yang dengan aksi dan kontribusi nyata
di lapangan, bukan hanya sekedar gagasan dan angan-angan.
Lalu apa yang dapat mahasiswa lakukan untuk dapat
berkontribusi nyata untuk membangung pertiwi? Pertama, setiap mahasiswa harus mempunyai akhlaq mulia dan sikap
negarawan. Apa itu negarawan? Menurut Ema Malindah, Negarawan adalah salah
seorang yang ahli dan mempunyai peranan dalam pengelolaan administrasi negara
dengan sifat loyal terhadap kepentingan bangsa dan negara. Dengan arti kata
loyal, maka seorang negarawan akan mempersembahkan yang terbaik untuk Sang Saka
Merah Putih ini tanpa mengharapkan pujian ataupun ilmbalan yang berlebihan.
Selain itu melalui kenegarawanannya akan berkembang sifat-sifat yang menjadi
karakteristik seorang pemimpin: cerdas, jujur, adil, bijaksana, amanah, tegas,
professional, inovatif, terbuka, ramah, dan santun. Kedua, Kontribusi di lapangan. Kontribusi yang di maksud di sini
adalah pengabdian mahasiswa di masyarakat secara langsung, tidak perlu yang
muluk-muluk, berkontribusi sesuai bidang dan keahlian masing-masing sudah akan
sangat membantu masyarakat di sekitar. Dengan adanya pengabdian masyarakat, di
harap bisa menjadi pemicu terbukanya wawasan masyarakatsekitar. Ketiga, belajar dari sejarah, . Jika
menengok kembali lembar sejarah yang tak habis di makan waktu, masih teringat
jelas di benak kita, bahwa yang menemukan dan mengusakan bangsa Indonesia ini adalah
para pemuda di jamannya yang tanpa lelah memperjuangkan kemerdekaan. Belum lagi
tragedy 1998 di mana gedung DPR dan MPRS dapat di taklukan oleh para mahasiswa.
Jika sudah menyatukan gerakan maka luar biasa hasil yang dapat kita lihat, dan
masih banyak lagi sejraha yang memuat pemuda dan mahasiswa di dalamnya. Di
harapkan dengan belajar dari sejarah para mahasiwa dapat mempunyai semangat
yang tiada habisnya, dapat mengambil pelajaran dari masa lalu dan
memperbaikinya di masa sekarang.
Penulis berharap, mahasiswa zaman sekarang tidak
melupakan tugasnya untuk mengabdi dan membangun negeri, karena tongkat estapet
kepemimpinan berada di tangan para pemuda dan mahasiswa. Penulis juga berharap
mahasiswa dapat menjadi mata air yang terus mengalir yang dapat selalu memberi
karya terbaik bagi bangsa, menjadi mata air yang dapat menciptakan kedamainan,
menjawab tantangan dan arah tujuan masa depan Indonesia, mahasiswa juga
mempunyai tanggung jawab yang sangat berat, yaitu mengukir Indonesia menjadi
elok nan sedap di rasa dan di pandang masyarakatnya.


0 komentar:
Posting Komentar